Pengajian Malam Jum’at Kliwon
Tanggal: 5 Februari 2009
Tempat: Ndalem Griya Lek Isra- Paesan - Kd. wuni - Pekalongan
Mulai jam: 21.10. WIB
Hadirin: Mustajirin, Ainun Rofiq, Nur Khamim Isra, Abdullah, Amir Baihaqi, Muhammad Ghafar, Razaq, Furqon, Roqib, Simul, Rois, Hasan, Husein, Ahmad Saifullah
Malam ini malam Jum'at Kliwon. Kulantunkan suara ringtone hape Mak lampir untuk menakuti adik-adikku yang pada waktu itu sudah bersiap berangkat ke Tajuk Pusaka untuk acara rutin Barzanjian. Waktu aku mengikuti adik-adikku untuk menjemput teman-teman mereka ke utara, aku di sapa Odin, "he Kang kok suwe ora katok."
Aku sekenanya menjawab, "biasa...ngilang, wong punya aji panglimunan." Setelah itu aku meralat "ooo dolan ning Jogja."
Waktu itu Odin sudah mengenakan helm, sepertinya segera bergegas melancong dengan temannya entah kemana. Sebelum pergi, ia memberi tahu bahwa pengajian malam sabtunan yang biasa diadakan dua minggu sekali, jadwalnya di majukan pada malam Jum'at Kliwon, karena malam sabtunya ada acara malam manaqiban Syaikh Abdul Qodir Jailani. Menghindari bentrok waktu dua acara, pengajian malam sabtu diajukan menjadi pengajian malam Jum'at. Ya syukurlah kalau bisa maju jangan mundur, seperti beberapa bulan yang lalu.
"Ya, aku nanti ikut, tapi aku ikut barzanjian dulu." Kalimat itu sekaligus menutup perbincanganku dengan pemuda murah senyum itu.
Acara barzanjian Tarbiyatul Athfal (TARAT) selesai pada jam setengan sembilan. Tidak seperti biasanya, acaranya dimulai agak lambat, sampai Ust Hidayatullah yang dijadwalkan mengisi Tausiah, tidak jadi mengisi, diganti dengan pengumuman pemenang qiraat, shalawat, dan pidato, kemudian disusul pengumuman penugasan pada minggu mendatang, dan diakhiri dengan doa. Ajang kompetisi ini, menurut Madani Dzil Fikri sebagai pancingan untuk adik-adik supaya benar-benar belajar ketika diberi tugas. Minimal, kalau dia ditugasi untuk berpidato, harus membawa teks sendiri; kalau ditugasi qiraat, minimal memakai lagu, tidak seperti orang membaca, bahkan ada yang hanya ngrendem. Sering adik-adik yang ditugasi pidato hanya "ngadang batang" teks pidato temannya atau teks yang sudah dituliskan oleh para pembina.
Setelah ditutup dengan doa, acara bubar. Mereka membawa sekeping koya dan permen yang menjadi "tombo lambe". Aku bergegas pulang untuk mengambil buku dan kitab Riayatal Himmah Awwal untuk sangu mengikuti pengajian Sabtunan di rumahnya Lek Isro. Acara dimulai dengan dibacakannya Tahlil oleh Roqib disusul shalawat Nariyah, lantunan doa dan wasilah. Aku mengira, teman-teman dalam pengajian ini mayoritas alumni Madrasah Salafiyah Simbangkulon. Karena ijasah yang paling masyhur dikalangan alumni dan siswa Madrasah Ngipek adalah ijazah shalawat nariyah. Jadi teringat masa-masa dulu waktu aku mengenyam bangku Madrasah. Setelah pembacaan Nariyah selesai, terus dilanjutkan dengan pengajian yang disampaikan oleh Ustadz Mustajirin.
Malam ini tidak hujan, walaupun langit berhias gumpalan mendung yang siap jadi hujan. Mungkin hujannya sudah ditumpahkan siang hari dan hari-hari kemarin yang hampir seharian ditimpa hujan. Bumi menjadi basah dan tetumbuhan mulai berkembang menghijau tanda hujan membawa keberkahan bagi manusia. Aku bersyukur malam ini tidak ditangisi langit, karena pengajian bisa absen, kalau sekiranya hujan mulai membuncah.
Aku harus mencatat apa yang disampaikan Ustadz Mustajirin. Karena catatan bisa mengingatkanku ketika aku lupa. Padahal aku banyak lupa daripada ingatnya. Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah juga pernah berujar bahwa menuliskan ilmu itu sama halnya kita menyancang binatang ternak. Misalnya kambing adalah ilmunya, maka tali yang mengait leher kambing adalah tulisan. Jadi kambing yang baru saja di dapat dari pasar bisa langsung dicancang sehingga tidak lepas dan hilang.
Ustadz Mustajirin memulai membaca kitab Takhyirah. Kitab ini menerangkan tentang keimanan, maksiat, tobat, ibadah dan faidahnya dan masih banyak lagi. Memasuki muqodimah saja aku sudah kewalahan untuk mencatat apa yang disampaikan Ustadz yang tidak merokok ini. Materinya juga luas. Tanda kedalaman ilmunya menukik. Kadang lompatannya begitu mencengangkan: dari pembahasan Tauhid langsung bisa melompat tinggi ke maqom wahdat al-wujud, terus tiba-tiba menyusuri relung-relung kisah Nabi dan para sahabat sebagai pelengkap keterangan. Dan tidak lupa bergegas mendalami Tasawuf akhlaq. Beliau berangkat dari makna hekakat yang diutarakan dalam Muqodimah kitab Tarajumah itu: bahwa hakekat hidayah itu datangnya dari Allah, manusia tidak bisa memberikan petunjuk, hanya sebatas ikhtiar dan berusaha untuk mengajak (dakwah). Kemudian ia berujar bahwa mayoritas Muqodimah yang terdapat dalam kitab-kitab terdiri dari memuji Allah (al-Hamdulillah); Shalawat kepada Nabi, keluarga dan sahabatnya.
oleh : Ahmad Saifullah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar